Optimasi Penggunaan Spektrum Frekuensi untuk BWA

Menuju kebijakan pengelolaan frekuensi yang Pro-Rakyat.

Dalam sistem komunikasi satelit penggunaan frekuensi dilakukan dengan cara bersama-sama dalam Band yang lebar. Penggunaan ini dipakai oleh beberapa operator dalam dan luar negeri secara bersama-sama. Bagaimana caranya agar antar operator tidak terjadi interferensi frekuensi? Ada dua hal yakni dalam satu operator satelit digunakan reusing frekuensi dengan menggunakan 2 polarisasi sehingga operator bisa mendapatkan Bandwidth 2 kali lipat. Contoh Band frekuensi C-Band dengan lebar pita 500 MHz (pada 3.7 sd 4.2 GHz) bila satu operator menggunakan dual polarisasi di antenna maka secara total akan didapatkan Bandwidth sebesar 1000 MHz atau 1 GHz.

Bagaimana agar antar operator tidak terjadi interferensi? Digunakanlah orbit slot yang terpisah. Biasanya sekitar 2 derajat. Contoh Palapa-C di 113 BT dan Palapa-B di 115 BT. Dengan demikian maka frekuensi yang besar itu dapat digunakan secara bersama baik dalam satu negara maupun dalam satu region atau bahkan seluruh dunia. Dengan pola seperti ini maka resource frekuensi yang sangat terbatas ini bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Bahkan dalam satu orbit yang lebih berdekatan digunakan frekeunsi yang sama namun dengan coverage footprint yang berbeda di bumi. Semua proses ini perlu adanya koordinasi antar operator baik di regional maupun international dibawah badan ITU (International Telecommunication Union).

Dalam kasus penggunaan frekuensi Extended C-Band (dari 3.4 s.d. 3.7 GHz) terjadi perdebatan yang sengit antara penggunaan Band frekeunsi ini untuk satelit atau untuk IMT Extended (International Mobile Telecommunication) yang bisa digunakan untuk standart LTE, WiMax, atau standard lainnya (intinya untuk terrestrial mobile data) dalam WRC 7 tahun 2007 lalu. Karena banyaknya negara yang support dan masih menggunakan extended C-Band untuk satelit, maka proses identifikasi penggunaan band frekuensi ini untuk IMT pada akhirnya diputuskan untuk tidak dilakukan. Artinya extended C-Band tetap digunakan untuk satelit. Sabagai aternatifnya akan ditinjau lagi kemungkinan penggunaan frekuensi 2.3 GHz sebagai band extended IMT.

Di ITU, band frekuensi S-Band (dari 2.5 s.d. 2.7 Ghz) sudah diidentifikasi sebagai band IMT yang mana hampir semua negara menyetujui untuk digunakan sebagai terrestrial data (termasuk Wimax, LTE, 4G, dll). Hanya ada beberapa negara (Korea dan Jepang) yang tetap akan menggunakan band ini untuk satelit (MSS atau Mobile Satellite System) namun dalam band frekuensi yang sempit sekitar 20 MHz. Sedangkan Indonesia satu satunya yg menggunakan S-Band ini untuk kegunaan DTH (Direct to Home, penyiaran TV berbayar via satelit) dengan band frekuensi yang lebar yakni 150 MHz.

Melihat diskusi yang ada di WRC 7 (dibawah ITU) terlihat banyak negara yang sangat concern terhadap ketersediaan band IMT dimana mereka melihat bahwa 200 MHz di 2.5GHz tidak cukup. Perlu ada tambahan alokasi frekuensi yang semula diajukan di 3.5 GHz namun ditolak oleh sebagian besar negara, dan dianjurkan untuk menggunakan frekuensi 2.3 GHz, walaupun belum disepakati karena band-nya lebih kecil hanya 100 MHz. Kita akan lihat kelanjutannya dalam next WRC-8 nanti.

Sekarang mari kita lihat kondisi di Indonesia. Adakah alokasi yang tersedia untuk band IMT? Dimana di komunitas international (ITU) band IMT sudah ditetapkan dan saat ini dibutuhkan band tambahan extended band IMT.
Di Indonesia band 2.5 Ghz saat ini 150 MHz dipakai untuk satelit dan ada 30 MHz dipakai untuk BWA, sisanya dipakai guard-band. Sementara band frekuensi 2.3 GHz saat ini akan ditenderkan untuk BWA sebanyak 30 MHz dan 10 MHz untuk USO. Sisanya 60 MHz belum ditentukan peruntukannya. Saat ini BWA yg ditetapkan oleh regulator tidak mengacu ke salah satu standart IMT baik itu LTE atau Wimax, yang ada adalah standard proprietary. Dimanakah band IMT untuk Indonesia?

Kembali pada band 2.5 GHz, pengunaannya di Indonesia sangat tidak efisien karena 150 MHz hanya dipakai satu operator dan tidak ada reusing frekuensi untuk orbit slot yang lain. Sangat berbeda dengan kasus C-band dan Ku-Band dimana digunakan dengan dual polarisasi dan slot orbit yang terpisah.
Sudah selayaknya monopoli penggunaan band frekuensi ini di-review ulang oleh regulator demi kemaslahatan masyarakat banyak dalam hal penggunaan resource frekuensi yang terbatas.
Bila kita bandingkan dari sisi BHP frekuensi, yang dipakai 3G atau BWA yang saat ini ditenderkan sangat jauh perolehan Negara yang didapatkan sebagai PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Contoh ekstremnya adalah sebagai berikut: 3G untuk blok 10 MHz (5 up dan 5 down FDD) biayanya 160 miliar. Bila formula ini diterapkan pada 2.5 GHz sebagai band IMT maka dengan 150 MHz seharusnya didapatkan angka BHP sebesar 15X160 milliar atau Rp. 2,4 Triliun yang harus dibayar tiap tahunnya. Apakah biaya sebesar ini layak digunakan untuk bisnis DTH? Atau bila kita bandingkan dengan harga BWA, manakah yang lebih menguntungkan? Mari kita ambil asumsi biayanya Rp. 35 miliar untuk 15 MHz maka BHP yg harus dibayar tiap tahun adalah 350 miliar.

Pertanyaan selanjutnya, apakah BHP frekuensi monopoli sudah sama dengan BHP yang dipakai terrestrial melalui skema tender? Belum lagi bila analisis ini dihubungkan pengaruhnya terhadap multiplier effect yang dihasilkan yakni bila penggunaan frekuensi ini benar-benar dioptimumkan atau diefisienkan baik dari sisi pajak yg dihasilkan oleh pengguna, ketersediaan akses data dll.
Perlu kiranya blue print yang jelas sehingga roadmap penggunaan resource frekuensi yang terbatas ini bisa digunakan secara efisien dan optimal dan menguntungkan bagi Negara dan Rakyat Indonesia seluas-luasnya.

@Tukang Pengamat : Hermanudin

Indosat dan Telkom Korting Besar-besaran Tarif Internet

Indosat dan Telkom Korting Besar-besaran Tarif Internet
Sabtu, 24 Maret 2007 | 12:02 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Dua operator penyedia jasa internet, Indosat Mega Media (IM2) dari Indosat dan Telkom membanting harga tarif internetnya. Untuk paket internet bulanan dengan akses tak terbatas (unlimited) yang berlaku mulai April 2007 nanti, keduanya menawarkan harga Rp 750.000 per bulan. Tarif ini sudah merosot jauh dibanding tarif yang berlaku selama ini, yaitu berkisar di Rp 5 juta per bulan (Indosat), dan Rp 2 juta perbulan (Telkom Speedy).

Business & Product Developement Senior Manager IM2 Hermanudin mengatakan nantinya, IM2 akan menggunakan satelit yang beroperasi pada pita frekuensi KU-Band.
Sebelumnya layanan akses internet IM2 yang menggunakan satelit, beroperasi di pita C-Band. “Layanan melalui satelit KU-band ini dapat menjangkau kawasan terpencil di Kalimantan, Sumatera, Bali, dan Jawa,” kata Hermanudin kemarin sore.

Hermanudin melanjutkan bahwa dengan diluncurkannya layanan internet melalui satelit KU-Band, biaya langganan akses internet bagi pelanggan akan menjadi Rp 750 ribu per bulan dengan quota atau hak untuk mengakses internet tak terbatas. “Harga ini jauh lebih murah ketimbang biaya berlangganan layanan serupa dengan satelit C-Band yang sebesar Rp 5 juta per bulan,” ujarnya. karena sinyal yang dimiliki KU-Band beroperasi pada frekuensi yang lebih tinggi dari C-Band, maka ukuran antena yang digunakan untuk menangkap gelombangnya lebih kecil. Sementara layanan akses internetnya dapat mencapai kecepatan 512 kilo bit per detik.

Sementara itu, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dengan produk Speedy juga menurunkan tarif aksesnya awal April 2007. Menurut Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia, paket Speedy akses tak terbatas yang semula Rp 2 juta menjadi Rp 750 ribu atau turun 63 persen. “Kecepatan downstream dan upstreamnya sebesar 384 kilo bit per detik (kbps) untuk downstream dan 64 Kbps untuk upstream,” ujarnya.